Tampilkan postingan dengan label dapat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dapat. Tampilkan semua postingan
Jumat, 07 Maret 2014
Tahniah! Farid Kamil Dapat Anak Lelaki
PETALING JAYA – Pelakon Farid Kamil mendapat anak lelaki selepas isterinya pelakon Diana Danielle Danny Beeson, 22, bersalin di Australia pada Selasa.
Berita itu turut disahkan oleh penerbit filem David Teo yang juga Pengarah Urusan syarikat produksi Metrowealth Interational Group (MIG) kepada mStar Online pada Selasa.
“Farid menghantar mesej dari Australia dengan memberitahu sayalah orang pertama yang mendapat berita isterinya iaitu Diana Danielle selamat bersalin anak lelaki,” katanya kepada mStar Online
David berkata, Farid telah memaklumkan Diana sepatutnya bersalin pada 15 Julai ini tetapi proses kelahiran berlaku lebih awal.
Bayi berkenaan lahir kira-kira pukul 4.30 petang waktu Malaysia.
“Apa-apa pun proses kelahiran berjalan dengan baik. Bayi selamat, ibu pun selamat dan sihat,” katanya.
Terdahulu Farid atau nama sebenarnya Farid Kamil Zahari, 32, memuat naik gambar bayi berkenaan kira-kira pukul 6.30 petang Selasa melalui laman sosial Instagram miliknya dengan kenyataan; “welcome to the world my son” (selamat datang ke dunia anak lelaki ku)
Dalam Instagram itu juga Farid turut menulis berat bayi tersebut ialah 9.7 paun (4.3 kilogram)
Sebelum ini industri hiburan dikejutkan apabila Farid memuat naik gambar dia mengucup seorang bayi sehingga menimbulkan salah faham kanonnya Diana Danielle telah melahirkan anak sebelum genap sembilan bulan usia perkahwinan mereka.
Bagaimanapun gambar itu telah dinafikan oleh adik Farid iaitu Fadzil Zahari yang mendakwa bayi itu adalah anak saudara mereka yang lahir pada 11 Mei lalu.
Farid dan Diana bernikah pada 3 November 2012 dalam satu majlis yang diadakan di Hotel Flamingo by the Lake dekat sini.
Selepas beberapa bulan berumah tangga, Diana berhijrah sementara ke Sydney, Australia untuk melanjutkan pelajaran di negara itu. - mStar Online
Selasa, 25 Februari 2014
Belogfadah Sempoiiiiii Dapat Pagerank 1

Alhamdulillah sekali lagi kita bertemu di tengah hari ini..Kebetulan buat BW tadi ke blog Dauspozi dan terbaca tentang Google dah update pagerank so lihat En Dauspozi dapat Pagerank 3 jadi Fadah pun nak try lah ngan belogfadah plak. Bila check kat Pagerank checker didapati belogfadah dapat Pagerank 1..

Sonoknya rasa hati kerana walaupun dapat Pagerank 1 tetap rasa bangga dalam diri ini kerana inilah tinjauan yang Fadah dapat setelah hampir setahun dalam dunia berblog nie...
Ini bukan entri menunjuk tetapi untuk buat simpanan Fadah yang menyatakan bahawa belogfadah ini pernah mendapat Pagerank 1.. Beshnyaaaaa......
Thanks kepada semua kawan-kawan yang support dan singgah ke belogafadah ini....jangan lupa singgah lagi yer....
Kepada sesiapa yang nak check PR, boleh terjah laman MyPageRank.Net ataupun Prchecker.info. Tahniah juga kepada blog-blog hebat yang lain yang mendapat Pagerank 1, 2, 3 mahupun yang seterusnya. Teruskan berblog yea!!!
Sabtu, 16 November 2013
Video Game Dapat Menyebabkan Depresi dan Kecanduan

Liputan6.com, Singapura: Video game mengundang daya tarik bagi anak-anak di seluruh dunia untuk bermain. Bahkan mereka lebih memilih bermain video game dibanding melakukan kegiatan lainnya. Selain itu, permainan ini juga mengganggu interaksi anak-anak dengan keluarga dan kehidupan bersosial.
Sebuah penelitian Pediatrics terbaru edisi Februari membantu menyoroti faktor risiko kecanduan video game (video game patologis) serta beberapa konsekuensi potensial dari game patologis, seperti depresi, cemas, fobia sosial, dan kesulitan di sekolah.
"Ini bukan hanya tentang berapa banyak waktu yang dihabiskan bermain video game. Melainkan melakukannya sedemikian rupa sehingga merusak kemampuan Anda di bidang lain, termasuk fungsi sosial, fungsi pekerjaan, hubungan, dan kinerja sekolah," kata Profesor Psikologi dari Iowa State University, Ames, Douglas A. Gentile.
"Apakah Anda berbohong tentang berapa banyak Anda melakukannya? Apakah Anda mencoba untuk berhenti tetapi tidak bisa? "tanya Gentile.
Menurut Gentile, kecanduan video game tidak termasuk dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV). "Saya tidak berpikir tentang itu, " katanya. "Jika hal ini berubah menjadi layak dalam DSM, mungkin berakhir menjadi dikategorikan sebagai gangguan kontrol impuls, seperti kecanduan berjudi," jelasnya.
Dalam studi Gentile selama dua tahun, dari 3.000 anak usia sekolah di Singapura, sekitar 9% menunjukkan tanda-tanda kecanduan video game. Tingkatan ini mirip dengan apa yang telah dilaporkan di negara lain.
Dalam penelitian itu, pecandu game yang menghabiskan waktu bermain video game lebih lama, memperlihatkan perilaku impulsif, dan secara sosial lebih canggung dibandingkan dengan mereka yang tidak kecanduan video game.
Sebuah penelitian Pediatrics terbaru edisi Februari membantu menyoroti faktor risiko kecanduan video game (video game patologis) serta beberapa konsekuensi potensial dari game patologis, seperti depresi, cemas, fobia sosial, dan kesulitan di sekolah.
"Ini bukan hanya tentang berapa banyak waktu yang dihabiskan bermain video game. Melainkan melakukannya sedemikian rupa sehingga merusak kemampuan Anda di bidang lain, termasuk fungsi sosial, fungsi pekerjaan, hubungan, dan kinerja sekolah," kata Profesor Psikologi dari Iowa State University, Ames, Douglas A. Gentile.
"Apakah Anda berbohong tentang berapa banyak Anda melakukannya? Apakah Anda mencoba untuk berhenti tetapi tidak bisa? "tanya Gentile.
Menurut Gentile, kecanduan video game tidak termasuk dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV). "Saya tidak berpikir tentang itu, " katanya. "Jika hal ini berubah menjadi layak dalam DSM, mungkin berakhir menjadi dikategorikan sebagai gangguan kontrol impuls, seperti kecanduan berjudi," jelasnya.
Dalam studi Gentile selama dua tahun, dari 3.000 anak usia sekolah di Singapura, sekitar 9% menunjukkan tanda-tanda kecanduan video game. Tingkatan ini mirip dengan apa yang telah dilaporkan di negara lain.
Dalam penelitian itu, pecandu game yang menghabiskan waktu bermain video game lebih lama, memperlihatkan perilaku impulsif, dan secara sosial lebih canggung dibandingkan dengan mereka yang tidak kecanduan video game.

Sementara, sebanyak 84% dari siswa yang kecanduan video game saat penelitian dimulai, mereka masih kecanduan dua tahun kemudian. "Ini bukan masalah jangka pendek," kata Gentile. "Sekali mereka masuk ke pola yang bermasalah, tampaknya akan tetap bersama mereka," pungkasnya.( WebMD Health News/MEL)
Langganan:
Postingan (Atom)